IMG_5187

INSEKTISIDA

Insektisida

Nara sumber : Dr, Ir.  Dodin Koswudin, PhD

IMG_5184 IMG_5185 IMG_5187 IMG_5191

GOLONGAN SINTETIK PIRETROID

v  Merupakan insektisida sintetik buatan yang mempunyai bahan aktif menyerupai insektisida hasil alam yaitu pyrethrum.

v  Piretroid sintetik lebih stabil dibandingkan piretroid alami (nicotinoid, rotenoid).

v  Mampu mengancam reaktivitas dari sistem jaringan serangga hama secara keseluruhan.

v  Dapat disimpan dalam waktu lama dengan tidak menyebabkan menurun daya kerjanya.

v  Merupakan insektisida harapan baru sejak tahun 1977.

v  Merupakan insektisida berdaya kerja cepat (knock down).

v  Sebagai racun saraf, menggangu pengarturan aliran ion Na+ pada membran sel saraf.

v  Mengandung daya paralisis temporer (daya kerja yang bersifat paralisis sementara atau sangat efektif apabila disertai dengan suatu sinergis, misalnya campuran Deltametrin dengan Triazofos; Sipermetrin dengan Klorpirifos).

v  Sasaran utama piretroid adalah ganglion saraf pusat serangga yang dapat menyebabkan pemblokiran konduksi.

v  Daya kerja piretroid terhadap serangga mirip dengan daya kerja DDT (organoklorin), tetapi pengaruh piretroid kurang persisten jika dibandingkan dengan DDT.

v  Gejala-gejala keracunan piretroid menunjukkan khas terjadinya keracunan syaraf yaitu eksitasi, konvulsi, paralisis dan kematian.

v  Keracunan oleh piretroid buatan diperkirakan disebabkan oleh akumulasi ”depolarizing subtance” yang belum diketahui di dalam atau di luar membran dan keikutsertaan beberapa reaksi metabolik.

v  Dari penelitian pola resistensi silang dan sifat konckdown, piretroid dibagi dua berdasarkan cara kerjanya (Scott dan Matsumura, 1983) yaitu Tipe I menyebabkan eksitasi repetitive discharge pada syaraf perifer dan memiliki korelasi suhu negatif; dan Tipe II. Menyebabkan penghambatan fungsi syaraf pusat, keracunan yang terkorelasi positif dengan suhu, sedangkan repetitive discharge tidak terjadi.

v  Pada konsentrasi rendah dapat menstimulir denyut jantung sehingga merupakan racun penghambat metabolisme dan sistem saraf.

v  Bekerjanya perlahan dan yang menonjol adalah sifatnya sebagai depresan (menyebabkan serangga/organisme depresi).

v  Serangga yang terkena racun piretroid sering mati karena kelaparan yang disebabkan terjadinya kelumpuhan pada alal-alat mulut.

v  Proses keracunan yang lambat dengan simptom berturut-turut adalah inaktif (antara lain tidak mau makan), knockdown, paralisis dan kematian.

v  Piretroid merupakan inhibitor metabolisme respirasi yang bersifat sangat spesifik, yaitu menyerang proses transpor elektron sehingga transmisi impuls saraf terhenti (nerve conduction block).

v  Piretroid akan meracuni serangga hama setelah tubuh atau bagian tubuh serangga kontak dengan partikel insektisida yang diaplikasikan, baik terkena secara langsung maupun melalui kontak dengan tanaman yang mengandung partikel insektisida kemudian akan terserap melalaui organ pencernaan, pernapasan atau menembus kutikula.

v  Terjadinya kematian serangga hama disebabkan pengaruh insektisida yang menyebabkan kelumpuhan, eksitasi, paralisis, sehingga walaupun serangga hama masih hidup tetapi tidak melakukan aktivitas merusak atau memakan tanaman sehingga menyebabkan kematian.

v  Memperhatikan cara kerjanya maka insektisida piretroid lebih sesuai apabila diaplikasikan pada kondisi populasi serangga hama sudah muncul di lapangan, sehingga lebih tepat untuk pengendalian secara kuratif., dengan demikian ledakan populasi hama dapat dikendalikan.

v  Hama sasaran: Ulat (Lepidoptera), kutudaun, pengisap daun, pucuk, buah/polong.

v  Bahan aktif: alfametrin, bifentrin, deltametrin, fenvalerat, lambda sihalotrin, permetrin, sipermetrin.

v   Produk: Matarin 50 EC, Kejora 15 EC, Delkis 25 EC, Bento 50 EC, Gemilang 110 EC, Vigor 100 EC

insektisida-matarin insektisida-kejora-15-ec DELKIS_2 insektisida-bento-50-ec insektisida-gemilang-110-ec insektisida-vigor

GOLONGAN  ORGANOFOSFAT  ( FOSFAT  ORGANIK )

v  Jenis-jenis fosfor organik atau fosfat organik merupakan kurang lebih 30% dari seluruh insektisida dan akarisida yang ada dewasa ini.

v  Beribu-ribu senyawa FO yang bersifat insektisida telah dicoba terhadap serangga dan hasilnya telah banyak membuka tabir rahasia biokimia susunan saraf baik pada vertebrata maupun hewan avertebrata.

v  Insektisida organofosfat dikenal dengan nama fosfat organik karena sebagian besar terdiri dari gugus fosfat.

v  Insektisida fosfat organik dapat digunakan sebagai racun saraf yang bekerja sebagai racun perut, kontak, fumigan dan sistemik.

v  Cara kerja utama insektisida fosfat organik dan karbamat adalah terhadap kolinesterase (ChE), yaitu menghambat kerja enzim asetilkolinesterase.

v  Fosfat organik meniru kerja enzim asetilkolinesterase (ACh), dengan mengikat kolinesterase (ChE).

v  Dalam tubuh serangga atau organisme lain fosfat arganik dapat mengalami aktivasi in vivo melalui oksidasi desulfurasi oleh enzim MFO (mixed function oxidase atau oksidase berfungsi campuran) dalam mikrosom (bagian sel).

v  Keracunan oleh fosfat organik pada mamalia adalah menimbulkan simptom; defeksi, urinasi, kejang otot dan kematian, sedangkan simptom lemah berupa gejala parasimpatis (salivasi, miosis).

v  Simptom yang terjadi pada serangga adalah gelisah, hipereksitabilitas, konvulsi, paralisis dan kematian yang disebabkan karena terjadi kegagalan pernapasan.

v  Dengan sifat dan cara kerja insektisida fosfat organik tersebut maka dapat digunakan dalam pengendalian untuk preventif (Pencegahan) dan kuratif (pemberantasan).

v  Hama sasaran Ulat-ulatan (Lepidoptera, Coleoptera), Diptera, kutudaun, pengorok daun/pucuk, pengisap daun/buah, penggerek buah/polong.

v  Bahan aktif: Asefat, diazinon, dimetoat, diklorvos, fenitrotion, fentoat, formotion, klorpirifos, metidation, propenofos, dll.

Produk: Anwavin 500 EC (Propenofos), Kresban 200 EC, Sergap 400 EC (Klorpirifos), Bionik 400 EC (Dimetoat)

GOLONGAN KARBAMAT

v  Insektisida golongan karbamat merupakan derivat dari asam karbamat.

v  Aktivitas biologis dari karbamat pertama dikenal ketika struktur beracun dari eserin atau Pysostigmine ditemukan pada tahun 1930.

v  Eserin merupakan alkaloid dari tanaman Physostigma venenosum, alkaloid/senyawa yang bersifat insektisidal Physostigmine merupakan suatu zat yang bekerja sebagai penghambat enzim asetilkholinesterase.

v  Walaupun senyawa tersebut dapat bekerja sebagai penghalang kerja enzim asetilkholiensterase, tetapi karena bersifat polar sehingga sulit bagi senyawa tersebut menembus kulit serangga atau kutikula yang terdiri dari senyawa non polar. Sehingga, untuk memperoleh senyawa yang efektif perlu dihilangkan bagian polar dari senyawa physostigmine tersebut.

v  Merupakan insektisida antikolinesterase yang ditemukan setelah fosfat organik.

v  Insektisida karbamat merupakan perintang (inhibitor) enzim asetilkolinesterase.

v  Enzim asetilkholinesterse berperan sangat penting, berfungsi mengendalikan hidrolisis dari asetilkolin yaitu neurotransmiter yang dihasilkan pada akson dekat celah sinaptik. Acetilkolin meneruskan impuls pada celah sinaptik. Setelah impul diteruskan asetilkolin oleh kolinesterase dihidrolisis menjadi kolin.

v  Dalam keadaan tidak terdapat kolinesterase, asetilkolin yang dihasilkan berakumulasi sehingga terjadi gangguan transmisi impuls, yang menyebabkan menurunnya koordinasi syaraf, otot-otot, konvulsi dan kematian.

v  Asetilkolin merupakan komponen esensial dalam transmisi impuls pada sistem syaraf mamalia dan serangga.

v  Karbamat lebih selektif dan diskriminatif dalam penghambatan enzim kolinesterase dan efek penghambatannya bersifat dapat dipulihkan (reversibel).

v  Daya kerja insektisida karbamat seperti halnya insektisida organofosfat, juga merupakan insektisida penghambat yang kuat enzimasetilkholinesterase, tetapi dengan beberapa perbedaan yaitu antara lain yang penting adalah menonjolnya sifat selektivitas dan reversibilitas pada karbamat dan enzim yang diserang karbamat dapat dipulihkan kembali (reversibel).

Ada dua faktor yang menyebabkan karbamat memiliki sifat reversibel  adalah terjadinya beberapa tahap reaksi, meliputi:

v  Pada tahap pertama terjadi reaksi bolak-balik antara enzim kolinesterse dengan senyawa karbamat.

v  Pada tahap kedua terjadi proses karbamilasi yaitu pengikatan enzim asetilkolinesterase oleh senyawa karbamat.

v  Pada tahap ketiga terjadi proses dekarbamilasi, pada saat ini senyawa karbamat dapat mengembalikan enzim yang mengakibatkan terjadinya penyembuhan, tetapi pada serangga yang terkena racun karbamat sangat sulit untuk dapat pulih kembali karena proses metabolisme pada tubuh serangga sudah tidak normal.

v  Pada serangga target keracunan oleh karbamat adalah pada ganglion sistem saraf pusat.

v  Hama sasaran: Ulat (Lepidoptera, Coleoptera), Diptera, kutudaun, pengisap daun, batang pucuk, bunga dan buah/polong, pengorok daun/pucuk, penggerek batang dan buah/polong.

v  Bahan aktif: BPMC, MIPC, karbofuran, karbosulfan, propoksur, tiodikarb, kartap hidroklorida, dll.

Produk: Kardan 4 G (Kartap hidroklorida), Kresnadan 3 G (Carbofuran), Amabas 500 EC/Tamabas 500 EC (BPMC), Tamacin 50 WP (MIPC).

Kelompok insektisida turunan Neristoksin (Dimehipo/bisultap/thiosultap)

v  Kelompok insektisida Neristoksim bekerja hampir sama dengan fosfat organik dan karbamat bersifat sebagai racun kontak, sistemik dan sebagai fumigan.

v  Akan lebih cepat meracuni apabila terserap kedalam sistem pencernaan serangga.

v  Bekerja sebagai racu saraf, antagonis pada reseptor asetilkolin dengan cara menghambat kerja enzin asetilkolinesterase.

v  Dimehipo lebih cepat terserap oleh tanaman melalui akar dan daun, sehingga berpengaruh lebih cepat terhadap serangga hama yang sudah menyerang dan berada dalam tanaman.

v  Hama target: penggerek batang, penggulung daun pada padi, jagung, kutu daun pada kubis, penggerek batang dan trips pada tanaman tebu.

Produk: Vista 400 SL, Venus 400 SL dan Fortuna 290 SL.

Kelompok insektisida Imidazolidin/Neonikotinoid (Imidakloprid)

v  Kelompok insektisida Imidazolidin bekerja hampir sama dengan fosfat organik, bersifat sistemik.

v  Imidakloprid sebagai racun saraf agonis pada reseptor asetilkolin sehingga menghambat kerja enzim asetilkolinesterase.

v  Imidakloprid setelah diaplikasikan akan terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar dan batang dan akan ditranlokasikan dengan cairan dalam sistem jaringan vasculer tanaman.

v  Cairan yang terdapat dalam jaringan tanaman akan dihisap oleh serangga hama, karena sudah mengandung insektisida maka akan berpengaruh terhadap perkembangan serangga hama.

v  Spesifik untuk serangga hama pengisap (daun, batang, bunga dan buah/polong).

v  Formulasi imidakloprid dapat diaplikasikan secara spray/penyemprotan, perawatan benih (seedtreatment).

v  Unggulan: IMIDAPLUS 200 SL

Kelompok insektisida Laktona makrosiklik

bekerja menghambat kerja enzim asetilkolinesterase.

Sebagai racun saraf agonis pada reseptor GABA.

Abamectin (Kiliri 20 EC), Emamektin benzoat.